Berat Badan Lahir, Panjang Badan Lahir, dan Jenis Kelamin Sebagai Faktor Kejadian Stunting di Provinsi Banten

Authors

  • Dina Rodiah Jurusan Kebidanan, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten, Serang - Indonesia
  • Ismiyati Ismiyati Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Banten, Serang - Indonesia
  • Yenie Wulandari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Banten - Indonesia
  • Kadar Kuswandi Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Banten, Serang - Indonesia
  • Ida Lindawati Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Banten, Serang - Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.36743/jmhr.v4i01.946

Keywords:

Stunting, Berat Badan Lahir, Panjang Badan Lahir, Jenis Kelamin Balita

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia meskipun prevalensinya menunjukkan penurunan secara bertahap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara berat badan lahir, panjang badan lahir, dan jenis kelamin bayi dengan kejadian stunting pada balita di Provinsi Banten. Penelitian deskriptif kuantitatif ini menggunakan data sekunder Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 dengan jumlah sampel sebanyak 3.671 balita. Berat badan lahir diklasifikasikan menjadi berat badan lahir rendah dan normal, sedangkan panjang badan lahir dibedakan menjadi <48 cm dan ≥48 cm. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat badan lahir rendah berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (p=0,001; OR=2,473). Balita dengan panjang badan lahir <48 cm memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting (p=0,001; OR=2,413). Selain itu, balita laki-laki lebih berisiko mengalami stunting dibandingkan perempuan (p=0,007; OR=1,238). Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan intervensi kesehatan ibu dan anak sejak masa kehamilan dan awal kehidupan untuk mencegah stunting.

Downloads

Published

2025-10-31

How to Cite

Rodiah, D. (2025) “Berat Badan Lahir, Panjang Badan Lahir, dan Jenis Kelamin Sebagai Faktor Kejadian Stunting di Provinsi Banten”, Journal of Midwifery and Health Research, 4(01), pp. 22–29. doi: 10.36743/jmhr.v4i01.946.