UMUR AKSEPTOR MEMPENGARUHI EFEK SAMPING PEMAKAIAN KONTRASEPSI IUD

  • erna mesra poltekkes kemenkes banten
Keywords: akseptor, kontrasepsi, IUD

Abstract

Gerakan KB Nasional  untuk mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS)  terwujudnya masyarakat  sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pertumbuhan penduduk Indonesia. Pengendalian kelahiran dengan kontrasepsi. Kontrasepsi IUD adalah cara untuk mencegah terjadinya kehamilan. Di Indonesia penggunaan suntik KB terbanyak 47,94% , pil KB, ketiga spiral atau IUD (Intra Uterine Device) implan, kondom, terakhir adalah Metode Operasi Wanita dan Metode Operasi Pria.1 Metode konstrasepsi IUD dinilai efektif/ kontrasepsi jangka panjang, dapat digunakan dalam waktu lama. Tujuan penelitian untuk mengetahui distribusi akseptor KB IUD yang mengalami efek samping dan faktor dominan yang berhubungan dengan efek samping KB IUD. Disain penelitian cross sectional sampel 84 responden. Kesimpulan kejadian efek samping 30.3%, ada hubungan bermakna umur, paritas, pekerjaan, pengetahuan dan lama pemakaian, variabel paling dominan adalah umur p value 0,000 dan OR 19,39.Pengaruh umur > 35 tahun mempunyai peluang terjadi efek samping 19,39 kali dibandingkan dengan umur < 35 tahun. Saran untuk  perempuan / akseptor umur > 35 tahun dan tidak menginginkan anak lagi agar mempertimbangkan memilih kontrasepsi Mantap untuk mengakhiri proses reproduksi.

References

1. Survey Demografi Kesehatan Indonesia. 2012.
2. BKKBN. 2014. Data Peserta KB
3. Rayni Fitri, Hubungan faktor prediposi, faktor pemungkin, faktor penguat dengan pemilihan kontrasepsi IUD di Puskesmas Pagaran Tapah Darussalam. 2012
4. Yusuf, faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan MKJP di Puskesmas Batuah Kutai Kartanegara. 2012
5. Notoatmodjo. Soekidjo. 2010. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta.
6. Saifuddin, Abdul Bari. 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
7. Andrews, Gilly, 2010. Buku Ajar Kesehatan Reproduksi Wanita (Woman’s Sexual Health) Edisi 2. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
8. Arikunto, 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta.
9. Ari, Sulistyawati, 2011. Pelayanan Keluarga Berencana, Jakarta: Salemba Medika
10. .BKKBN. 2006. Upaya perencanaan Program Keluarga Berencana.
11. BKKBN. 2009. Upaya Pemerintah menurunkan AKI&AKB.
12. BKKBN. 2010. Laporan Umpan Balik Program Keluarga Berencana.
13. BKKBN. 2014. Data Peserta KB
14. Hartanto, H. 2002. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.Irianto, Koes. 2014. Pelayanan Keluarga Berencana. Bandung. ALFABETA, cv.
15. Lemeshow, Stanley, Hosmen, David, Klar, 1997. Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan, (Pramono, Dibyo, Penerjemah) UGM: Yogyakarta
16. Manuaba, I.B.G, 2008. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. EGC. Jakarta.
17. Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
18. Notoatmodjo. Soekidjo. 2010. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta
19. Noviawati, Dyah. 2011. Panduan Lengkap Pelayanan KB Terkini. Jogjakarta : Nuha Offset.
20. Penelitian Widyawati, faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan AKDR di Puskesmas Batuah Kutai Kartanegara. 2012.
21. Penelitian Rahmi Fitri, Hubungan faktor prediposi, faktor pemungkin, faktor penguat dengan pemilihan kontrasepsi IUD di Puskesmas Pagaran Tapah Darussalam. 2012
22. Proverawati, Atikah. Et al. 2010. Panduan Memilih Kontrasepsi. Yogyakarta: Nuha Medika.
23. Saifuddin, Abdul Bari. 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
24. Survey Demografi Kesehatan Indonesia. 2012.
Published
2020-05-31
Section
Articles